Akal dalam bahasa unani di sebu nous aau logos atau intelek (intellect ) dalam bahasa ingris adalah daya berfikir yang terdapat dalam otak, Sedangkan “ Hati “ adalah daya jiwa (nafs natthiqah ).Daya jiwa berfikir yang ada dalam otak disebut rasa (dzaugh ). Kkarena itu ada dua sumber pengetahuan, Yaitu pengetahuan akal (ma’rifat aqliyah ).dan pengetahuan hati (ma’rifat qalbiyah ). Kalau para filsu menggungulkan pengetahuan akal,para sufi lebih menggungulkan pengetahuan hati (rasa ).
Menurut para filsuf islam,
akal yang telah mencapai tingkatan tertinggi...akal perolehan (akal
mustafa )...ia dapatmengetahui ke bahagiaan dan berusaha memperolehinya.
Akal yang demikian akan menjadikan duni jiwanya kekal dalam kebahagiaan
(sorga ). Namun, Jika akal yang telah mengenal kebahagiaan itu
berpaling, berarti dia tidak berusaha memperolnya. Jiwa yang demikian
akan kekal dalam kesengsaraan (neraka ).
Adapun
akal yang tidak sempurna dan tidak mengenal kebahagiaan, maka menuru
al-farabi, Jiwa yang demikian akan hancur. Sedangkanmenurut para filsuf
tidak hancur. Karena kesempurnaan manusia menurut para filsuf terletak
pada kesempurnaan pengetahuan akal dalam mengetahui dan memperoleh
kebahagiaan yang tertinggi, Yaitu ketika akan sampai ketingkat akal
perolehan.
HATI ATAU SUKMA (qolb ).
Hati
atau sukma terjemahan dari kata bahasa arab yaitu qalb. Sebenar nya
terjemahan yang tepat bukan hati atau sukma. Tetapi dalam pembahasan ini
kita memakai kata hati sebagaimana yang sudah biasa. Hati adalah
segumpal daging yang berbentuk bulat panjang dan terletak di dada
sebelah kiri. Hati dalam hal ini bukanlah sebagai obyek
kajian kita disini, karena hal itu termasuk bidang kedokteran yang
cakupanya bisa lebih luas, misalnya hati binatang dan bangkainya.
Sedangkan
yang di maksud hati disini adalah hati dalam arti yang halus, Hati
nurani daya fikir jiwa (daya nafs nathiqah ) yang ada pada hati, di
rongga dada dan daya fikir itulah yang di sebut rasa (zaugh ),yang
memperoleh sumber pengetahuan hati (ma’rifat qolbiyah ). Dalam kaitan
ini Allah berfirman: “Mereka mempunyai hati, tapi tidak di pergunakan
memahaminya.” (Qs. 7:1-79 ).
Dan disini kita
mendapat kesimpulan sementara,Bahwa menurut para filsuf dan sufi
islam,Hakekat manusia itu jiwa yang berfikir (nafs insaniyah ), tapi
mereka berbeda pendapat dalam pencapaian kesempurnaan manusia. Bagi para
filsuf kesempurnaan manusia di perolehi melalui pengetahuan akal
(ma’rifat aqliyah ).Sebab akal dan hati sama-sama merupakan daya
berfikir.
Menurut sufi, hati yang bersifat
nurani itulah sebagai wadah atau sumber ma’rifat sebagai suatu alat
untuk mengetahui hal-hal yang ilahi. Hal ini hanya di mungkinkan jika
hati telah bersih dari pencemaran hawa nafsu dengan menempuh fase-fase
moral dengan latihan jiwa, serta mengantikan moral yang tercela dengan
moral yang terpuji, Lewat hidup zuhud yang penuh taqwa, wara’ serta
zikir yang kontinyu,ilmu laduni (ilmu Allah )yang memancarkan sinar
dalam hati, sehinga ia dapat menjadi sumber atau wadah ma’rifat, dan
akan mencapai pengenalan Allah dengan demikian, poros jalan sufi adalah
moralitas.
Latihan-latihan ruhani yang sesuai dengan tabiatterpuji adalah sebagai kesehatan hatidan hal ini yang lebih
berarti ketimbang kesehatan jasmani sebab penyakit angota tubuh luar
akanhanya membuat hilangnya kehidupa di dunia ini saja,Sementra penyakit
hati nurani akan membuat hilangnya kehidupan yang abadi. Hati nurani
ini tidak terlepas dari penyakit, Yang kalau di biarkan akan membuatnya
berkembang banyak dan akan berubah menjadi hati dhulmani atau hati yang
kotor.
Kesempurnaan hakekat manusia (nafs
insaniah )di tentukan oleh hasil perjuann[ggan antara hati nurani dan
hati dulmani.inilah yang dimaksud dengan firman Allah yang artinya,
“Sesunguhnya beruntunglah orang-orang yangmensucikan jiwanya, dan
rugilah orang-orang yang mengotorinya.” (Qs. 91: 8-9 )
Hati
nurani bagaikan cermin,Sementara pengetahuan adalah pantulan gambar
realitas yang terdapat di dalamnya. Jika cermin hati nurani tidak
bening, hawa nafsu yang tumbuh. Sementara ketaatan kepda Allah serta
keterpalingan dari tuntutan hawa nafsu itulah yang justru membuat hati
nurani bersih dan cemerlang serta mendapat limpahan cahaya dari Allah
swt.
Menurut Imam al ghozali, Allah
melimpahkan cahaya pada dada seseorang, Tidak karena mempelajarinya ,
mengkajinya, atau menulis buku akantetapi dengan bersikap askeptis
terhadap dunia, Menghindar dari hal-hal yang brkaitan
denganya,Membebaskan hati nurani dari berbagai pesonanya, dan menerima
Allah dengan segenap hati dan barang siapa memiliki Allah niscahya Allah
adalh miliknya. Setiap hikmah muncul dari hati nurani,dengan keteguhan
beribadat, tanpa belajar, tetapilewat pancaran cahaya dari ilham ilahi.
Hati
atau sukma dulmani selalu mempunyai keterkaitan dengan nafs atau jiwa
nabati dan hewani. Itulah sebabnya ia selalu menggoda manusia untuk
mengikuti hawa nafsunya. Kesempurnaan manusia (nafs nathiqah
),tergantung pada kemampuan hati-nurani dalam pengendalian dan
pengontrolan hati dhulmani.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar