Mengenai Saya

Foto saya
Bojonegoro, Jawa Timur, Indonesia
Dilahirkan dari Kakek dan Ortu seorang guru 49 tahun yang silam tepatnya 30 okt 59.menempuh pendidikan formal SD 71 SMP 74 SPG 77 Sarmud IKIP th 80 S1 86 Magister menejemen 96 di Jogyakarta.Pekerjaan gr SD 77 -80 Karyw. Cab Dinas Pendd 80 - 85 gr SPG 81 - 84 gr SMP 84 - 92 Ka sek SMP 93 - 2001 Ka sek SMA Kalitidu Bjn 2001 - 2008 Kasek SMA 3 Bjn 2008 - Mart 2009. Terpilih sebagai gr Teladan Nas. th 1992 dan mengikuti pendidikan pada Japan Foundation di Jepang th 1993 sebagai alumnus Japan Foundation Scholarship th 93 dan kini aktif sbg Ketua Takmir masjid Darul Fattah Bjn.bergabung dgn SNA Brain Based Support sejak 26 mart 09 dibawah pimpinan dr Obed.Berbagai pelatihan pengembangan bahan ajr, metode pembelajaran pengembangan kurikulum sekolah dan peletihan menejemen telah kami ikuti. Kesimpulan Saya pemerintah dan negara ini tak punya komitmen dan konsisten dalam penanaman investasi di bidang pendidikan apalagi setelah era OTODA terasa lebih megedepankan kepentingan kekuasaan sesaat. Semoga segera muncul politisi politisi yang NEGARAWAN.Kini kami diKaruniai tiga Orang putera dan puteri dari istri KHUSNUL KHOTIMAH yang sholehah dan sangat mensuport perjalanan hidup kami.

Minggu, 30 Desember 2012

HATI SEBAGAI DAYA PIKIR











Akal dalam bahasa unani di sebu nous aau logos atau intelek (intellect ) dalam bahasa ingris adalah daya berfikir yang terdapat dalam otak, Sedangkan “ Hati “ adalah daya jiwa (nafs natthiqah ).Daya jiwa berfikir yang ada dalam otak disebut rasa (dzaugh ). Kkarena itu ada dua sumber pengetahuan, Yaitu pengetahuan akal (ma’rifat aqliyah ).dan pengetahuan hati (ma’rifat qalbiyah ). Kalau para filsu menggungulkan pengetahuan akal,para sufi lebih menggungulkan pengetahuan hati (rasa ).
Menurut para filsuf islam, akal yang telah mencapai tingkatan tertinggi...akal perolehan (akal mustafa )...ia dapatmengetahui ke bahagiaan dan berusaha memperolehinya. Akal yang demikian akan menjadikan duni jiwanya kekal dalam kebahagiaan (sorga ). Namun, Jika akal yang telah mengenal kebahagiaan itu berpaling, berarti dia tidak berusaha memperolnya. Jiwa yang demikian akan kekal dalam kesengsaraan (neraka ).
Adapun akal yang tidak sempurna dan tidak mengenal kebahagiaan, maka menuru al-farabi, Jiwa yang demikian akan hancur. Sedangkanmenurut para filsuf tidak hancur. Karena kesempurnaan manusia menurut para filsuf terletak pada kesempurnaan pengetahuan akal dalam mengetahui dan memperoleh kebahagiaan yang tertinggi, Yaitu ketika akan sampai ketingkat akal perolehan.

HATI ATAU SUKMA (qolb ).
Hati atau sukma terjemahan dari kata bahasa arab yaitu qalb. Sebenar nya terjemahan yang tepat bukan hati atau sukma. Tetapi dalam pembahasan ini kita memakai kata hati sebagaimana yang sudah biasa. Hati adalah segumpal daging yang berbentuk bulat panjang dan terletak di dada sebelah  kiri. Hati dalam hal ini bukanlah sebagai obyek kajian kita disini, karena hal itu termasuk bidang kedokteran yang cakupanya bisa lebih luas, misalnya hati binatang dan bangkainya.
Sedangkan yang di maksud hati disini adalah hati dalam arti yang halus, Hati nurani daya fikir jiwa (daya nafs nathiqah ) yang ada pada hati, di rongga dada dan daya fikir itulah yang di sebut rasa (zaugh ),yang memperoleh sumber pengetahuan hati (ma’rifat qolbiyah ). Dalam kaitan ini Allah berfirman: “Mereka mempunyai hati, tapi tidak di pergunakan memahaminya.” (Qs. 7:1-79 ).
Dan disini kita mendapat kesimpulan sementara,Bahwa menurut para filsuf dan sufi islam,Hakekat manusia itu jiwa yang berfikir (nafs insaniyah ), tapi mereka berbeda pendapat dalam pencapaian kesempurnaan manusia. Bagi para filsuf kesempurnaan manusia di perolehi melalui pengetahuan akal (ma’rifat aqliyah ).Sebab akal dan hati sama-sama merupakan daya berfikir.
Menurut sufi, hati yang bersifat nurani itulah sebagai wadah atau sumber ma’rifat sebagai suatu alat untuk mengetahui hal-hal yang ilahi. Hal ini hanya di mungkinkan jika hati telah bersih dari pencemaran hawa nafsu dengan menempuh fase-fase moral dengan latihan jiwa, serta mengantikan moral yang tercela dengan moral yang terpuji, Lewat hidup zuhud yang penuh taqwa, wara’ serta zikir yang kontinyu,ilmu laduni (ilmu Allah )yang memancarkan sinar dalam hati, sehinga ia dapat menjadi sumber atau wadah ma’rifat, dan akan mencapai pengenalan Allah dengan demikian, poros jalan sufi adalah moralitas.
Latihan-latihan ruhani yang sesuai dengan tabiatterpuji adalah sebagai kesehatan hatidan hal ini yang  lebih berarti ketimbang kesehatan jasmani sebab penyakit angota tubuh luar akanhanya membuat hilangnya kehidupa di dunia ini saja,Sementra penyakit hati nurani akan membuat hilangnya kehidupan yang abadi. Hati nurani ini tidak terlepas dari penyakit, Yang kalau di biarkan akan membuatnya berkembang banyak dan akan berubah menjadi hati dhulmani atau hati yang kotor.
Kesempurnaan hakekat manusia (nafs insaniah )di tentukan oleh hasil perjuann[ggan antara hati nurani dan hati dulmani.inilah yang dimaksud dengan firman Allah yang artinya, “Sesunguhnya beruntunglah orang-orang yangmensucikan jiwanya, dan rugilah orang-orang yang mengotorinya.” (Qs. 91: 8-9 )
Hati nurani bagaikan cermin,Sementara pengetahuan adalah pantulan gambar realitas yang terdapat di dalamnya. Jika cermin hati nurani tidak bening, hawa nafsu yang tumbuh. Sementara ketaatan kepda Allah serta keterpalingan dari tuntutan hawa nafsu itulah yang justru membuat hati nurani bersih dan cemerlang serta mendapat limpahan cahaya dari Allah swt.
Menurut Imam al ghozali, Allah melimpahkan cahaya pada dada seseorang, Tidak karena mempelajarinya , mengkajinya, atau menulis buku akantetapi dengan bersikap askeptis terhadap dunia, Menghindar dari hal-hal yang brkaitan denganya,Membebaskan hati nurani dari berbagai pesonanya, dan menerima Allah dengan segenap hati dan barang siapa memiliki Allah niscahya Allah adalh miliknya. Setiap hikmah muncul dari hati nurani,dengan keteguhan beribadat, tanpa belajar, tetapilewat pancaran cahaya dari ilham ilahi.
Hati atau sukma dulmani selalu mempunyai keterkaitan dengan nafs atau jiwa nabati dan hewani. Itulah sebabnya ia selalu menggoda manusia untuk mengikuti hawa nafsunya. Kesempurnaan manusia (nafs nathiqah ),tergantung pada kemampuan hati-nurani dalam pengendalian dan pengontrolan hati dhulmani.

Tidak ada komentar: